Hot Info

Ulama-ulama Jawi di Zabid, Yaman

 Ulama-ulama Jawi di Zabid, Yaman


Baris-baris dalam ruang terbatas ini sudah pasti bukan kajian mendetail untuk sebuah objek pembahasan seluas dan seberat yang tertera pada judul. Baris-baris ini tidak lebih dari semacam pemberitahuan atau tanda isyarat (signal) guna memanggil para peneliti sejarah kebudayaan Islam, terutama tenaga muda dan para mahasiswanya, untuk dapat menyelam lebih jauh ke dalam objek pembahasan tersebut--atau lain-lain semisalnya--di mana di sana dituntut ragam keterampilan, ketekunan dan 'nafas yang panjang'. Yang dinantikan setelah pemberitahuan atau tanda isyarat semacam ini adalah lahirnya suatu kerja yang sungguh-sungguh untuk mencari jawaban ilmiah tentang bagaimana usaha, peran dan partisipasi para pendahulu dalam pengembangan berbagai ilmu pengetahuan, mulai dari tahap menuntut dan belajar (tahshil) sampai ke tahap mengajarkan (tadris), meriwayatkan (tahdits), menyelidiki dan meneliti (tahqiq/bahts), menyusun dan menuliskan (ta'lif/kitabah), serta menerjemahkan (tarjamah). Hasil kerja yang sungguh-sungguh itu, tentu, akan menjadi sumbangan ilmu pengetahuan yang teramat berguna untuk menggantikan "sampah-sampah" berlabel sejarah yang telah sekian lama mengotori ruang akal generasi hari ini serta menghambat gerak pikirnya. Zabid adalah satu kota terkenal di Yaman, dibangun pada masa Khalifah Al-Ma'mun, dan merupakan tempat asal sejumlah ulama. Pembangunannya dilakukan oleh Muhammad bin Ziyad pada 204 hijriah (819 masehi) setelah Al-Ma'mun mengangkatnya sebagai Amir (gubernur) di Yaman. Demikian, antara lain, disebutkan Yaqut Al-Hamawi (wafat 626 H/1228 M) dalam Mu'jamnya. Kota Zabid berada di daerah pertanian yang subur di barat dataran tinggi Yaman, dan berjarak lebih kurang 20 km ke sebelah timur dari tepi Laut Merah. Jauh dari Shan'a yang terletak di sebelah barat lautnya sekitar 200 km, dan dari Aden yang berada di sebelah barat dayanya kurang lebih 300 km. Kota ini dikelilingi benteng tebal yang terus diperbaharui dari waktu ke waktu, dan sampai hari ini, masih terlihat sisa benteng yang dibangun pada masa Dinasti Al-Aiyyubiah di abad ke-6 hijriah. Benteng tersebut memiliki empat gerbang yang masih kokoh sampai sekarang. Lain itu, Masjid Al-Asya'ir (mengacu kepada Abu Musa Al-Asy'ariy--Radhiya-Llahu 'anhu) yang dibangun pada tahun ke-8 hijriah juga merupakan bangunan peninggalan sejarah yang kemudian telah dialihfungsikan menjadi perguruan tinggi di Yaman. Begitu pula masjid yang dibangun pada masa Muhammad bin Ziyad merupakan masjid besar yang masih dapat disaksikan sampai dengan waktu ini. Selain terkenal sebagai salah satu kota bersejarah di Yaman dan kampung halaman dari Qabilah Al-Asy'ar, Zabid juga terkenal sebagai pusat ilmu pengetahuan yang terkemuka. Al-Fairuzabadiy, ahli bahasa paling terkenal, pengarang Al-Qamus, telah wafat di Zabid pada 817 hijriah. Ibnu Al-Muqriy Asy-Syafi'iy, penyusun karya fenomenal "'Unwan Asy-Syaraf Al-Wafi fi 'Ilmi Al-Fiqh wa At-Tarikh wa An-Nahw wa Al-'Arudh wa Al-Qawafiy", yang hidup antara 754-837 hijriah, menjadi faqih terkemuka setelah belajar di Zabid pada tuan gurunya, Al-Iman Jamaluddin Ar-Rimiy (wafat 792 hijriah). Ibnu Ad-Daiba' Az-Zabidiy, sejarawan kesohor yang wafat pada 944 hijriah, juga berasal dari Zabid. Kemudian, As-Sayyid Murtadha Az-Zabidiy, penyusun Mukhtashar Al-Bukhari, Tajul 'Arus dan karya-karya penting lainnya, yang wafat di Mesir pada 1205 hijriah, adalah seorang ulama masyhur yang mempopulerkan dirinya berasal dari Zabid, kendati sesungguhnya ia berasal dari India. Sebagai kota bersejarah dan pusat ilmu pengetahuan, Zabid menjadi tujuan dari sejumlah besar ulama dan penuntut ilmu dari berbagai kawasan, tidak terkecuali dari kawasan kepulauan India (Jaza'ir Al-Hind) yang menuturkan Bahasa Jawi. Sebelum dilanjutkan, perlu juga kiranya diberikan sedikit catatan tentang Bahasa Jawi dan penuturnya, supaya tambah tegas maksud "Jawi" yang dibicarakan di sini. Bahasa Jawi adalah bahasa yang dibangsakan kepada bahasa Pasai atau Syummuthrah (Ibnu Baththutah: Sumuthrah; tradisi lisan: Samudra Pasai) sebagaimana dinyatakan, antara lain, oleh Nurudddin Ar-Raniriy dan 'Abdur Rauf Al-Fanshuriy dalam karya-karya mereka. Para penutur Bahasa Jawi, di mana pun negerinya di kepulauan ini, telah lama sekali dikenal di dunia luar sebagai orang Jawi (Al-Jawiy/Al-Jawiyyun). Lain dengan istilah "orang Melayu" dengan "Bahasa Melayu"-nya, apalagi "orang Indonesia" dengan "Bahasa Indonesia"-nya, yang baru muncul dan populer dalam masa-masa pembaratan (westernisasi), di samping kemunculannya juga tidak terlepas dari agenda-agenda imperialisme Barat. Ini serupa pula halnya dengan istilah "Nusantara" yang diangkat kembali oleh kaum imperialis [beserta pengikutnya] dari warisan kebudayaan yang sesungguhnya sangat bersifat lokal, terpencil, dan telah lama punah. Secara umum, istilah-istilah yang muncul dalam masa pembaratan ini bertujuan akhir untuk mengenyahkan berbagai rintangan disebabkan Islam di jalan imperialisme. Sebelum pembaratan, dunia luar hanya mengenal orang-orang Jawi dan Bahasa Jawi, yang mana keduanya, atau sebut saja: masyarakat dan kebudayaannya, terpaut erat dengan Islam, 'aqidah dan syari'atnya. Kembali ke topik pembicaraan.. Jejak kehadiran para ulama dan penuntut ilmu di Zabid yang berasal dari kawasan penutur Bahasa Jawi itu telah terekam, antara lain, dalam sebuah karya dalam Ilmu Isnad ('Ilmul Isnad) disusun seorang ulama Zabid abad ke-12 hijriah bertajuk: "Nuzhah Riyadh Al-Ijazah Al-Mustathabah bi Dzikri Manaqib Al-Masyayikh Ahl Ar-Riwayah wal Ishabah" (tamasya dalam taman-taman Ijazah yang menyenangkan untuk mengisahkan riwayat-riwayat hidup para mahaguru; pakar dalam periwayatan dan pelurusan riwayat). Pengarang karya tersebut ialah Abu Az-Zain 'Abdul Khaliq bin 'Ali bin Az-Zain bin Muhammad bin Az-Zain Al-Mizjajiy. Dalam otobiografi yang ditulis pada bagian akhir karyanya ini, pengarang menyebutkan hari dan tempat kelahirannya pada Selasa, 17 Syawwal 1141, di sebuah kampung benama At-Tuhaita, Zabid. Ramai penghuni kampung tersebut, seperti yang dituturkan Pengarang, adalah orang-orang yang shalih, tokoh-tokoh terkemuka, dan para penghafal Al-Qur'an. Keluarga Mizjajiy yang menghuni daerah Mizjajah di dekat Zabid itu juga merupakan sebuah keluarga yang terkenal dengan para ulamanya. Sejumlah besar di antara mereka adalah tokoh-tokoh ulama terkemuka dan karismatik. Di awal perjalanan hidupnya, 'Abdul Khaliq selalu berada di bawah bimbingan ayahnya yang juga seorang ulama. Kepada ayahnya, 'Ali bin Az-Zain Al-Mizjajiy, dia pertama sekali berguru, membaca dan meriwayatkan banyak sekali bacaan, dan dari ayahnya pula ia mengambil thariqat An-Naqsyabandiyah selain kemudian dari kedua gurunya, 'Abdul Khaliq bin Abu Bakr Al-Mizjajiy dan As-Sayyid 'Abdullah bin Ahmad Da'il. Ia juga lama berguru kepada seorang ulama ahli qira'at pada zamannya, Syaikhul Qurra' Isma'il bin Muhammad Baziy. Dan setelah menjadi seorang ulama yang menguasai banyak bidang ilmu pengetahuan, ia mulai mengajar dan berhasil melahirkan sejumlah murid yang cemerlang. Selain menulis Nuzhah Riyadhil Ijazah, Abu Az-Zain juga menulis karya-karya yang secara umum diperuntukkan untuk pendidikan dan pengajaran. Tetapi, Nuzhah Riyadhil Ijazah dalam bidang Ilmu Isnad merupakan karya tulisnya yang paling terkenal dan fundamental, dan menjadi salah satu karya yang dibanggakan Yaman dalam bidang Ilmu Isnad. Karya ini diselesaikanya pada 1199, penghujung abad ke-12 hijriah, dua tahun sebelum wafatnya pada 1201 hijriah. Pada tahun 1418 hijriah (1997 masehi), Nuzhah Riyadhil Ijazah yang disunting Mushthafa 'Abdul Karim Al-Khathib dan 'Abdullah Al-Habsyi Al-Yamani diterbitkan Dar Al-Fikr, Beirut, sebagai cetakan pertamanya. Dalam Nuzhah Riyadhil Ijazah ini, Abu Az-Zain Al-Mizjajiy menyebutkan beberapa nama tokoh yang memakai nisbah "Al-Jawiy" di akhir nama mereka. Sekalipun ia hanya menyebutkan nama-nama itu tanpa meluaskan keterangan mengenai mereka, tapi dari catatan-catatan pendek yang diberikannnya--kecuali untuk satu tokoh yang ia sebutkan dengan keterangan lebih panjang dari lainnya--sudah cukup untuk menjadi pertanda dari sebuah kehadiran yang menonjol bagi para ulama Jawi di Zabid. Kehadiran tersebut, kiranya, pantas untuk ditelusuri lebih lanjut dan mendalam. Nama-nama ulama Jawi yang disebutkan dalam Nuzhah Riyadhil Ijazah ialah: 1. 'Abdur Ra'uf Al-Jawiy Pada halaman 144 Nuzhah Riyadhil Ijazah (Cet. Dar Al-Fikr, Beirut, 1418 H) disebutkan nama 'Abdur Ra'uf Al-Jawiy. Abu Az-Zain Abdul Khaliq Al-Mizjajiy menyinggung tentang tokoh ini dalam pembicaraannya mengenai Syaikh 'Abdullah bin Muhammad Baqi, seorang ahli qira'at dan ulama di Zabid yang wafat pada 14 Rajab 1107 hijriah. Syaikh 'Abdullah adalah putra sulung dari ulama besar dan wali yang terkenal, Syaikh Muhammad Baqi bin Az-Zain Al-Mizjajiy (1005-1074 hijriah), murid Syaikh Tajuddin Al-'Utsmaniy An-Naqsyabandiy. Penyebutan nama Syaikh 'Abdur Ra'uf Al-Jawiy di sini terkait sebuah salinan mengenai tarikh kelahiran Syaikh 'Abdullah bin Muhammad Baqi Al-Mizjajiy. Dalam salinan itu diterangkan bahwa telah lahir seorang putra yang berbahagia, diberi kemudahan, dan terpetunjuk, Insya'a-Llah Ta'ala, 'Afifuddin Abu Muhammad 'Abdullah ibn Sayyidi Syaikh Muhammad Baqi Al-Mizjajiy An-Naqsyabandiy ibn Az-Zain Al-Mizjajiy, pada tanggal hari Ahad setelah berlalu 20 hari dari bulan Jumadil Akhir tahun seribu tiga puluh lima (1035) dari hijrah Nabi Shalla-Llahu 'alahi wa Sallam. Setelah memuat salinan ini secara lengkap, Abu Az-Zain Al-Mizjajiy menulis: وأظن أن كاتب الولادة عبد الرؤوف الجاوي وكان من أجل تلامذة الشيخ محمد باقي وكبار الأولياء رحمه الله تعالى "Dan saya menduga, penyalin catatan kelahiran ini ialah 'Abdur Ra'uf Al-Jawiy. Ia adalah salah seorang murid paling utama dari Syaikh Muhammad Baqi, dan salah satu aulia yang besar. Semoga Allah Ta'ala merahmatinya." Dugaan pengarang Nuzhah Riyadhil Ijazah tentu didasari alasan-alasan yang dapat diperhitungkan sekalipun ia tidak mengungkapkannya di sini. Sebab, hanya di tempat ini saja ia menyebutkan nama 'Abdur Rauf Al-Jawiy yang dinyatakannya sebagai murid Muhammad Baqi yang terkemuka dan seorang sufi yang besar. Bahkan, pada bagian di mana ia menulis tentang biografi Syaikh Muhammad Baqi serta mengurutkan sejumlah nama muridnya, ia tidak lagi menyebutkan tentang 'Abdur Ra'uf Al-Jawi. Penyebutan tentang 'Abdur Rauf Al-Jawiy hanya manakala menyangkut salinan tarikh kelahiran 'Abdullah, putra sulung Syaikh Muhammad Baqi yang pada waktu itu masih berumur 30 tahun. Berarti, ia punya alasan-alasan yang dapat diperhitungkan untuk dugaannya tersebut. Lantas, siapakah 'Abdur Ra'uf Al-Jawiy yang telah menyalin tarikh kelahiran 'Abdullah bin Muhammad Baqi di tahun 1035 hijriah (1626 masehi) ini? Apakah ia adalah Syaikh Aminuddin 'Abdur Ra'uf bin 'Ali Al-Fanshuriy Al-Jawiy? Sejauh ini, belum terdengar ada 'Abdur Ra'uf lain dalam rentang waktu mulai permulaan abad ke-11 hijriah sampai ke awal abad ke-12 hijriah, yang layak dideskripsikan sebagai "murid Syaikh Muhammad Baqi bin Az-Zain Al-Mizjajiy yang terkemuka dan salah seorang aulia yang besar", apalagi menyangkut dengan Zabid dan Syaikh Muhammad Baqi, selain Al-Watsiq bil Malikil Jaliy Syaikh Aminuddin 'Abdur Ra'uf bin 'Ali Al-Fanshuriy Al-Jawiy, pengarang Mir'ah Ath-Thullab yang terkenal. Catatan yang barangkali dapat memastikan bahwa tokoh ulama dan sufi yang dimaksud dengan 'Abdur Ra'uf Al-Jawi ini adalah Syaikh Aminuddin 'Abdur Ra'uf Al-Fanshuriy ialah pernyataan Syaikh 'Abdur Ra'uf sendiri dalam 'Umdatul Muhtajin (manuskrip): "...Dan adapun segala sufi yang mashur wilayahnya (kewaliannya) yang bertemu dengan faqir ini (yakni: Syaikh 'Abdur Ra'uf) dalam antara masa itu (yakni: dalam masa 19 tahun di negeri Arab) yang lain daripada yang masuk kepada segala ulama yang tersebut itu, yaitu......kesembilan, Syaikh Muhammad Al-Baqi namanya." Sekalipun persoalan salinan tarikh kelahiran Syaikh 'Abdullah bin Muhammad Baqi dapat menimbulkan beberapa persoalan lain yang perlu diselidiki dan diperjelas nantinya, namun itu sama sekali tidak menggugurkan kenyataan bahwa orang-orang Jawi, baik ulama maupun penuntut ilmunya, mempunyai kehadiran yang menonjol di kota ilmu pengetahuan dan ulama itu. 2/3/4. Syaikh Yusuf Tajuddin; Al-Faqih 'Abdul 'Aziz Al-Jawiy; 'Abdullah Al-Jawi Ketiga ulama ini disebutkan oleh Abu Az-Zain 'Abdul Khaliq Al-Mizjajiy dalam biografi Syaikh Muhamamad Baqi pada halaman 205 (Cet. Dar Al-Fikr, Beirut, 1418 H, ). Ia menyatakan bahwa mereka adalah di antara murid-murid yang diijazahkan oleh Syaikh Muhammad Baqi bin Az-Zain Al-Mizjajiy. ومنهم العلماء الفضلاء الأدباء الكملاء المكملون الشيخ يوسف تاج الدين والفقيه عبد العزيز الجاوي وعبد الله الجاوي لازموا الشيخ مدة حتى صاروا من أهل التكميل "Di antara mereka [yang dijazahkan oleh Syaikh Muhammad Baqi] adalah para ulama yang utama, ahli adab yang terlebih sempurna lagi menyempurnakan: Syaikh Yusuf Tajuddin, Al-Faqih (ahli fiqh) 'Abdul 'Aziz Al-Jawiy, dan 'Abdullah Al-Jawiy. Mereka semua mengikuti (mulazamah) Syaikh [Muhammad Baqi] untuk beberapa waktu hingga kemudian menjadi orang-orang yang menyempurnakan." Khusus untuk Syaikh Yusuf Tajuddin, Abu Az-Zain menambahkan keterangannya sebagai berikut: والشيخ يوسف له مصنفات في التوحيد وسر القبلة تدل على عظيم قدره "Dan Syaikh Yusuf telah menyusun sejumlah karangan mengenai tauhid dan rahasia kiblat, yang semua ini menunjukkan derajatnya yang besar." Keterangan tambahan ini, dan cara penyebutan namanya "Syaikh Yusuf Tajuddin", dapat meyakinkan bahwa ulama yang dimaksud itu adalah Syaikh Yusuf At-Taj Al-Jawi, atau yang lebih dikenal umum dengan sebutan Syaikh Yusuf Al-Maqassariy. Selain ketiga ulama besar ini, Abu Az-Zain juga telah mengutip keterangan Al-'Allamah Mushtafa bin Fathulllah Al-Hamawiy dalam Fawa'id Al-Irtihal bahwa tidak terkira banyaknya jumlah orang-orang dari Jawah (yakni: negeri-negeri penutur Bahasa Jawi), India dan Damaskus yang berguru kepada Syaikh Muhammad Baqi, serta mengambil thariqat An-Naqsyabandiyyah dari khalifah Syaikh Tajuddin Al-'Utsmaniy ini. Ungkapan Mushthafa bin Fathullah Al-Hamawiy yang dikutip Abu Az-Zain, juga mengesankan tingkat jumlah kehadiran orang-orang Jawi yang boleh jadi mengatasi jumlah orang-orang dari India dan Damaskus. 5. Syaikh Al-'Allamah Jalaluddin Al-Jawiy Pengarang Nuzhah Riyadhil Ijazah menyebutkan nama ulama ini dalam riwayat hidup (biografi) Syaikh Muhammad bin Az-Zain bin Muhammad Baqi Al-Mizjajiy, salah seorang di antara paman pengarang sendiri, putra ketiga dari Syaikh Az-Zain yang wafat pada 1138 hijriah. Abu Az-Zain menuturkan bahwa setelah Syaikh Muhammad berpindah ke Zabid bersama seluruh keluarganya--sekitar tahun 1153 hijriah (?)--ia lantas menjadi sangat menonjol. Para qadhi dan ulama Zabid berkumpul di tempatnya setiap hari dan berlangsunglah berbagai pembahasan, diskusi, berikut berbagai pemecahan masalah. Waktu-waktunya penuh terisi dengan pembacaan hadits baik itu dalam pertemuan khusus maupun umum. Dan, ia membangun sebuah masjid besar di dekat rumahnya, yang pembiyaannya dibantu oleh sultan Falimba (Palembang?), atau boleh jadi oleh menterinya, dan duduk sebagai pengajar dalam masjid itu Asy-Syaikh Al-'Allamah Jalaluddin Al-Jawiy. Teks pada halaman 193 Nuzhah Riyadhil Ijazah (Cet. Dar Al-Fikr, Beirut, 1418 H): ..و بنى مسجدا عظيما بقرب بيته أعانه على عمارته سلطان فلمبا أو وزيره وجلس للدرس فيه الشيخ العلامة جلال الدين الجاوي ".. dan ia membangun sebuah masjid besar di dekat rumahnya, yang biaya pembangunannya dibantu oleh Sultan Falimba (Palembang?) atau menterinya. Duduk untuk mengajar dalam masjid itu Asy-Syaikh Al-'Allamah Jalaluddin Al-Jawiy." Syaikh Muhammad bin Az-Zain Al-Mizjajiy, kelihatannya, memang punya kedekatan khusus dengan orang-orang Jawi. Pengarang Nuzhah Riyadhil Ijazah menyebutkan bahwa putra sulung Syaikh Muhammad, Az-Zain, serta adiknya, 'Alauddin bin Muhammad, sudah berhijrah ke Jawah dan tinggal di sana. Mereka berdua seperti diungkapkan pengarang Nuzhah Riyadhil Ijazah, telah memperoleh kedudukan yang mulia di negeri orang Jawi dikarenakan kebaikan dan keutamaan mereka (hal: 194). Apakah Asy-Syaikh Al-'Allamah Jalaluddin Al-Jawiy yang disebutkan di sini ada sangkut pautnya dengan seorang ulama terkemuka di Aceh Darussalam bernama Faqih Jalaluddin, yang dalam tahun 1152 hijrah telah menulis karyanya "Manzharul Ajla ila Rutbatil A'la untuk memenuhi titah Sultan 'Alauddin Juhan Syah Berdaulat Zhillullah fil 'Alam? Soal ini, tentu, masih perlu penyelidikan lanjutan. 6. Syaikh Mahmud bin Sarniy Al-Jawiy Syaikh Mahmud adalah tokoh yang disebutkan oleh pengarang Nuzhah Riyadhil Ijazah dalam otobiografinya. Abu Az-Zain menulis pada halaman 295 (Cet. Dar Al-Fikr, Beirut, 1418 H): وأما شيخنا محمود بن سرني الجاوي فإنه كان عارفا كبيرا كثير الاستغراق والسكر والهيبة في الله تعالى لا ينام الليل وصل إلى الوالد رحمه الله تعالى ولازمه وكنت في غرور العلم لا ألتفت إليه وكان يحبني كثيرا كمحبة والدي فذات يوم وصلت إليه فألقى على مسائل في علم الكلام تحيرت في جوابها فطلبت منه أن يحلها فحلها بما لا يقدر أحد الآن على ذلك فعرفت قدره وفضله وأن وراء ذلك ما هو أهم فلازمته وخدمته فلقنني الذكر على طريق السادة الشطارية قدس الله أرواحهم كما أخذها عن شيخه محمد الطبري عن شيخه عبد الوهاب بن عبد العني الهندي عن الإمام إبراهيم بن حسن الكردي عن شيخه أحمد القشاشي ...... وكان نزول شيخنا المذكور إلى الوالد رحمه الله تعالى سنة ألف ومائة وستة وستين ما رأيت في رجال الله مثله في الاستغراق وكثرة المعارف والحمد لله “Tuan guru kami, Mahmud bin Sarni Al-Jawiy, adalah ‘arif yag besar, sangat sering mengalami ‘istighraq’, ‘sakr’ dan ‘haibah’ di jalan Allah, dan tidak tidur di malam hari. Ia datang menjumpai ayah saya—semoga Allah merahmatinya—dan berguru kepadanya (mulazamah). Waktu itu, saya masih congkak dengan ilmu [yang saya miliki]. Saya sama sekali tidak memberikan perhatian kepadanya sedangkan ia sangat menyayangi saya, sama seperti sayang ayah saya sendiri kepada saya. Suatu hari, saya pergi menghadapnya. Ketika itu ia melontarkan kepada saya pertanyaan-pertanyaan rumit dalam masalah Ilmu Kalam, dan saya sama sekali tidak mampu menjawabnya. Saya, lantas, memintanya untuk menjelaskan, dan ia kemudian memberikan penjelasan yang untuk waktu sekarang tidak akan ada orang yang mampu memberikan penjelasan seperti itu. Sejak itu, saya jadi sadar akan kedudukan dan keutamaannya, dan di belakang itu semua ada pula hal yang terlebih penting. Karena itu kemudian saya berguru kepadanya dan melayaninya. Ia mengajarkan saya zikir atas jalan (thariqat) tuan-tuan Syaththariyyah-semoga Allah menyucikan arwah mereka-sebagaimana yang diterima dari gurunya Muhammad Ath-Thabariy, dari gurunya ‘Abdul Wahhab bin ‘Abdul Ghaniy Al-Hindiy dari Imam Ibrahim bin Hasan Al-Kurdiy, dari gurunya, Ahmad Al-Qusyasyi...... Kedatangan guru kami ini ke tempat ayah saya—semoga Allah merahmatinya—pada tahun seribu seratus enam puluh enam (1166 hijriah). Saya tidak pernah menjumpai orang yang sebanding dia dalam istighraq dan pengetahuannya yang luas.” Dari keterangan tersebut diketahui bahwa Syaikh Mahmud bin Sarni Al-Jawiy mulai berguru kepada Syaikh ‘Ali bin Az-Zain bin Muhammad Baqi Al-Mizjajiy (1109-1174 hijriah) pada saat pengarang Nuzhah Riyadhil Ijazah masih berusia 25 tahun, dan ayahnya, Syaikh ‘Ali Al-Mizjajiy, sudah berusia 57 tahun. Dan, dari kalimat pegarang Nuzhah Riyadhil Ijazah: “Waktu itu, saya masih congkak dengan ilmu [yang saya miliki]. Saya sama sekali tidak memberikan perhatian kepadanya sedangkan ia sangat menyayangi saya, sama seperti sayang ayah saya sendiri kepada saya...” tertangkap kesan bahwa usia Syaikh Mahmud pada waktu itu tidaklah terlalu jauh lebih muda dari ayahnya, Syaikh ‘Ali Al-Mizjajiy. Lain itu, sanad thariqat Syaththariyah yang diterima pengarang Nuzhah Riyadhil Ijazah dari Syaikh Mahmud juga menandakan bahwa ulama Jawi ini sudah pernah berada di Al-Haramain, sebab ia mengambil thariqat ini kepada Muhammad Ath-Thabariy, dan antara dia dan Syaikh Ahmad Al-Qusyasyiy, guru Syaikh ‘Abdur Ra’uf bin ‘Ali Al-Fanshuriy Al-Jawiy, hanya selang tiga orang. Kabar mengenai ulama Jawi yang satu ini—sebagaimana beberapa tokoh lainnya—belum banyak diketahui dan masih memerlukan penyelidikan yang lebih luas. Namun begitu, keterangan-keterangan singkat yang ditulis Abu Az-Zain ‘Abdul Khaliq Al-Mizjajiy dalam Nuzhah Riyadhil Ijazah, sedikitnya, dapat menyingkap kedudukan orang-orang Jawi di Tanah Arab, terutama mereka yang berasal dari Aceh Darussalam, dalam berbagai kegiatan ilmu pengetahuan, baik sebagai pelajar maupun pengajar, sekaligus juga sebagai pengarang dan penerjemah. Syaikh ‘Abdul Khaliq bin ‘Ali bin Az-Zain bin Muhammad Al-Mizjajiy dalam Nuzhah Riyadhil Ijazah juga tidak mungkin menyebutkan sejumlah besar murid ayahnya, Syaikh ‘Ali Al-Mizjajiy. Ia, misalnya, tidak menyebutkan tentang Syaikh ‘Abdur Rahim bin ‘Abdullah Al-Asyiy Al-Jawiy (Teungku Chik Awe Geutah) yang wafat dan dimakamkan di Peusangan, Kabupaten Bireuen. Ia juga salah seorang ulama Aceh Darussalam yang berguru dan mengambil beberapa ijazah dari Syaikh ‘Ali Al-Mizjajiy di At-Tuhaita, dekat Zabid. Dan tentang ini, nantinya, akan dikemukakan di kesempatan yang lain. Dikutip dari Aceh Darussalam Academy.

No comments